Artikel TrendingBerandaDaerahLintas SultengPendidikanSekolah & Kampus

Sekolah dari Bambu, Semangat dari Hati: Cerita Ibu Indrawati dari Ujung Wugaga

Di tengah keterbatasan, seorang kepala sekolah di Desa Wugaga, Kabupaten Sigi, menjaga semangat belajar anak-anak dari balik dinding bambu.

INTERKINI.CO, SIGI — Di sebuah sudut sunyi pegunungan Marawola Barat, berdiri sebuah bangunan bambu beratap rumbia. Dari luar, mungkin tampak seperti gubuk biasa. Namun bagi anak-anak Desa Wugaga, tempat sederhana itu adalah sekolah, rumah bagi cita-cita kecil yang tumbuh di tengah keterbatasan.

Setiap pagi, anak-anak berseragam merah putih berjalan kaki menyusuri jalan berbatu sejauh tiga kilometer. Debu menempel di kaki mereka, tapi semangat di mata mereka tak pernah pudar. Di ujung perjalanan, mereka tiba di kelas jauh SD Negeri Wugaga, tempat mereka belajar di bawah naungan bambu dan cahaya alami yang menembus celah dinding.

“Sekarang kami masih menempati gedung darurat dari bambu yang dibangun bersama warga. Sebelumnya, kami sempat belajar di gereja atau baruga tempat masyarakat berkumpul,” tutur Indrawati Sambow, Kepala Sekolah SD Negeri Wugaga, dengan nada lembut namun tegas, Kamis (13/11/2025).

Swadaya Masyarakat, Simbol Kepedulian

Bangunan sederhana itu lahir dari gotong royong. Tidak ada kontraktor, tidak ada alat berat. Hanya tangan-tangan warga yang bekerja dengan niat tulus agar anak-anak mereka punya tempat untuk menulis, membaca, dan bermimpi.

“Jaraknya sekitar tiga kilometer dari sekolah induk, dengan medan pegunungan yang sulit. Biasanya kami harus berjalan kaki hampir satu jam,” jelas Indrawati.

Ia menatap dinding bambu yang sudah mulai lapuk, lalu tersenyum kecil. “Kami tahu tempat ini belum layak, tapi bagi kami, inilah bukti bahwa semangat belajar tak bisa dibatasi oleh tembok atau fasilitas.”

Belajar di Tengah Keterbatasan

Ruang belajar di sekolah darurat itu hanya satu. Meja dan bangkunya dibuat dari batang kayu yang diikat seadanya. Anak-anak duduk berdempetan, sebagian menulis di pangkuan. Saat hujan, air merembes dari sela atap, membuat mereka harus memindahkan buku agar tak basah.

“Ruang belajar kami hanya satu, jadi anak-anak dari berbagai kelas belajar bergantian atau berdesakan. Tapi semangat mereka luar biasa, tak pernah absen datang ke sekolah,” ujar Indrawati, matanya berkaca-kaca.

Meski serba kekurangan, tidak ada keluhan dari anak-anak. Mereka datang setiap pagi dengan wajah ceria. “Pernah satu kali hujan deras, kami pikir mereka tidak akan datang. Tapi ternyata mereka tetap datang sambil basah kuyup,” kenangnya. “Mereka bilang, lebih baik basah sedikit daripada tidak belajar sama sekali.”

Harapan yang Tak Pernah Padam

Indrawati sadar, pendidikan di pelosok seperti Wugaga masih jauh dari kata ideal. Namun ia dan para guru memilih bertahan — bukan karena terbiasa susah, tapi karena yakin setiap anak berhak mendapat kesempatan yang sama.

“Kami tidak menuntut bangunan besar. Kami hanya berharap pemerintah bisa membantu membangun tiga ruang kelas semi permanen agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman,” ucapnya lirih, namun penuh harap.

Bagi Indrawati, mengajar di Wugaga bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan hati. Ia telah menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak desa itu belajar dengan tekun meski kondisi tak mendukung. “Mereka tidak pernah menyerah. Itu yang membuat kami juga tak boleh menyerah,” katanya.

Cahaya dari Sekolah Bambu

Di antara suara serangga dan desir angin pegunungan, terdengar lantunan pelajaran membaca dan menghitung dari mulut kecil anak-anak. Dinding bambu menjadi saksi bisu bagaimana semangat itu tumbuh setiap hari.

“Sekolah bukan hanya tentang bangunan, tapi tentang hati dan pengabdian,” ujar Indrawati. “Kami akan terus berjuang selama masih ada anak-anak yang ingin belajar.”

Wajah-wajah kecil anak-anak Wugaga mungkin dibasuh peluh dan panas perjalanan, namun di mata mereka berpendar cahaya harapan akan masa depan yang lebih baik. Di tangan mereka, masa depan itu sedang ditulis perlahan namun pasti di atas meja bambu yang mungkin goyah, tapi penuh makna.

Di ujung Wugaga, dari sekolah bambu yang sederhana, cahaya pendidikan tetap menyala berkat ketulusan seorang guru dan semangat anak-anak yang tak pernah padam.

Penulis: Muhammad
Editor: Tim Redaksi Interkini.co

📢 Simak update berita menarik lainnya, ikuti Saluran WhatsApp Official kami klik di sini

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.