Kisah Ulbah bin Zaid; Sahabat yang Bersedekah dengan Doa
INTERKINI.CO- Di antara para sahabat Rasulullah ﷺ, ada seorang lelaki sederhana bernama Ulbah bin Zaid. Namanya mungkin tidak sepopuler Abu Bakar atau Umar, tetapi kisahnya menjadi teladan tentang arti sedekah yang sejati.
Suatu ketika Rasulullah ﷺ mengajak kaum Muslimin untuk berjihad. Para sahabat pun bersegera memberikan apa yang mereka miliki. Ada yang membawa unta, ada yang menyerahkan kuda, ada pula yang menyumbangkan emas dan perak. Semua ingin memberikan yang terbaik untuk jalan Allah.
Ulbah hanya bisa terdiam. Ia fakir, nyaris tidak memiliki apapun. Hatinya gelisah, merasa tertinggal dari kebaikan para sahabat lain. Malam itu, ia sujud dalam doa panjang. Dengan linangan air mata, ia berkata:
“Ya Allah, Engkau tahu aku tak punya harta untuk kusumbangkan. Aku tak punya kendaraan untuk berjihad. Maka aku serahkan kepada-Mu apa yang aku punya: kehormatanku. Aku maafkan siapa saja dari kaum Muslimin yang pernah menzalimiku. Itu yang bisa aku sedekahkan untuk-Mu, ya Allah.”
Pagi harinya, Rasulullah ﷺ mengabarkan kepada para sahabat bahwa Allah telah menerima sedekah Ulbah bin Zaid. Sedekahnya—yang bukan berupa harta, tetapi doa dan keikhlasan memaafkan—ternyata lebih tinggi nilainya di sisi Allah.
Ulbah bin Zaid mengajarkan kita bahwa sedekah tidak hanya dalam bentuk materi. Ia bisa berupa tenaga, ilmu, senyum, doa, bahkan hati yang lapang untuk memaafkan. Keikhlasanlah yang membuat amal kecil menjadi besar.
Kita sering merasa baru bisa bersedekah bila sudah kaya. Padahal, Ulbah bin Zaid menunjukkan sebaliknya. Ia tidak menunggu berlimpah harta, tetapi memberi dengan apa yang ia punya: hati yang tulus dan doa yang ikhlas.
✍️ Rubrik Hikmah – Kisah Tokoh
📚 Pelajaran hidup dari sahabat Nabi yang tak lekang oleh zaman



