Nenek Moyang Padi Dunia Berasal dari Kabupaten Sigi, Harta Warisan Alam yang Terlupakan
INTERKINI.CO, SIGI – Di balik hamparan hijau Lembah Sigi yang menenangkan, tersimpan kisah besar tentang asal-usul kehidupan pangan dunia. Tak banyak yang tahu, bahwa nenek moyang padi dunia ternyata berasal dari Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, tepatnya di Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa.
Dalam dialek suku Kaili, tanaman ini dikenal dengan nama Tina Nupae yang berarti Induk Padi. Tanaman ini diyakini sebagai varietas purba, asal mula seluruh jenis padi yang kini menjadi sumber kehidupan bagi miliaran manusia di bumi.
Kisah bersejarah ini diungkapkan oleh Asmudin, seorang tokoh masyarakat yang menjadi saksi langsung penemuan Tina Nupae pada tahun 1974. Saat ditemui Interkini.co, Asmudin menceritakan bahwa kala itu, seorang peneliti asal Kanada bernama Mr. Brown datang ke Lembah Palu setelah dua puluh tahun berkeliling dunia mencari asal-usul padi.
“Nenek moyang padi tidak ditemukan di tempat lain, hanya ada di Kabupaten Donggala saat itu dan kini menjadi Kabupaten Sigi. Tepatnya di Desa Tuva. Ini tanaman langka dan sangat berharga. Kita harus menjaganya,” tutur Asmudin penuh harap.
Penemuan Bersejarah yang Terlupakan
Menurut penuturan Asmudin, Mr. Brown akhirnya menemukan varietas asli padi purba tersebut di Desa Tuva, setelah menelusuri berbagai daerah di Indonesia dan Asia Tenggara. Saat itu, Asmudin ditunjuk oleh Ir. Daeng Maloto untuk mendampingi tim penelitian.
“Semua varietas padi di Lembah Palu diteliti, dan ternyata nenek moyang padi ditemukan di Donggala yang kini menjadi Kabupaten Sigi,” kenangnya.
Sayangnya, penemuan monumental ini tidak banyak terdokumentasi secara luas. Seiring waktu, kisahnya perlahan memudar, nyaris hilang dari ingatan masyarakat. Bahkan, sebagian warga setempat tidak menyadari bahwa tanah yang mereka pijak menyimpan jejak penting dalam sejarah pertanian dunia.
Padahal, Tina Nupae bukan sekadar varietas padi kuno. Ia adalah simbol identitas ekologis dan kebanggaan budaya masyarakat Kaili, sekaligus bukti bahwa Sigi memiliki kontribusi besar dalam sejarah peradaban pangan manusia.
Ancaman Kepunahan dan Seruan Pelestarian
Asmudin mengaku belum dapat memastikan apakah Tina Nupae masih bisa ditemukan di Tuva hingga kini. Terakhir kali ia melihat tanaman tersebut tumbuh pada tahun 2024, namun belum ada penelitian lanjutan yang memastikan keberadaannya.
“Kalau pun masih ada, itu sudah sangat sedikit. Saya minta tolong agar pemerintah dan masyarakat bisa melestarikannya, karena ini ikon Kabupaten Sigi yang sangat berharga,” ujarnya.
Ia menambahkan, varietas serupa juga ditemukan di Desa Maku, masih di wilayah Kabupaten Sigi. Artinya, peluang untuk menyelamatkan padi purba ini masih terbuka, asalkan dilakukan riset dan konservasi serius oleh lembaga daerah maupun nasional.
Potensi Besar untuk Sigi dan Dunia
Bila dilakukan pelestarian dan penelitian berkelanjutan, keberadaan Tina Nupae dapat menjadi aset ilmu pengetahuan dan pariwisata edukatif bagi Kabupaten Sigi. Selain memperkaya nilai sejarah, hal ini juga membuka peluang besar untuk pengembangan wisata pertanian dan budaya lokal.
Bayangkan, jika kawasan Tuva Kecamatan Gumbasa dijadikan “Kawasan Konservasi Padi Purba Dunia” lengkap dengan pusat riset, taman edukasi, serta wisata budaya Kaili. Sigi tidak hanya dikenal karena alamnya yang indah, tetapi juga sebagai pusat peradaban padi dunia.
“Ini bukan hanya soal tanaman, tapi soal jati diri dan warisan dunia. Kalau kita tidak jaga, dunia bisa kehilangan bagian penting dari sejarah pertanian,” tegas Asmudin.
Ajakan untuk Pemerintah dan Masyarakat
Asmudin berharap pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan lembaga riset dapat segera melakukan penelitian ulang dan pemetaan lokasi asli Tina Nupae. Ia juga mendorong agar dibuat program pelestarian yang melibatkan masyarakat lokal, bukan hanya untuk kepentingan ilmiah, tapi juga sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi warga melalui ekowisata dan pelestarian budaya.
“Saya berharap ini jadi perhatian bersama. Jangan sampai tanaman ini punah tanpa jejak. Tina Pae adalah warisan untuk anak cucu, bukan hanya untuk Sigi, tapi untuk dunia,” tutupnya dengan haru.
Warisan Dunia dari Tanah Kaili
Dari kisah yang diceritakan Asmudin ini, satu hal menjadi jelas: Kabupaten Sigi bukan sekadar daerah agraris, tetapi penyimpan sejarah peradaban pangan dunia. Menyelamatkan Tina Nupae berarti menjaga jati diri, kebanggaan, dan nilai luhur yang diwariskan oleh alam dan leluhur masyarakat Kaili.
“Melestarikan Tina Nupae berarti menjaga napas sejarah dunia dari Tanah Kaili.”
Pewarta: Mohamad Gasalele
Editor: (Redaksi Interkini.co)




