Di Balik Senyum Lansia Penerima Zakat, Masjid Almadaniyah Bangun Harapan di Ujung Ramadhan

INTERKINI.CO, TARAKAN — Di sebuah sudut sederhana di RT 02 Juata Permai, Kota Tarakan, senyum haru seorang lansia menjadi potret nyata makna zakat di bulan suci Ramadhan. Di balik angka-angka penyaluran, tersimpan kisah tentang harapan yang kembali tumbuh di tengah keterbatasan.
Pengurus Masjid Almadaniyah tahun ini untuk pertama kalinya mengelola langsung penerimaan hingga penyaluran zakat, infak, sedekah, dan fidyah selama Ramadhan 1447 Hijriah. Kegiatan tersebut berlangsung sejak awal hingga penghujung Ramadhan, bekerja sama dengan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Baznas Kota Tarakan.

Ketua Takmir Masjid Almadaniyah, Ustaz Salim Gasalele, menyebut langkah ini sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan distribusi zakat yang lebih dekat dan menyentuh langsung masyarakat.
“Ini tahun pertama kami melaksanakan pengumpulan sekaligus penyaluran secara langsung. Kami ingin memastikan zakat benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (19/3/2026).
Menjangkau yang Tak Terlihat
Di balik program tersebut, terdapat upaya pengurus masjid untuk menjangkau warga yang selama ini luput dari perhatian. Salah satunya adalah Siti Muriati (72), yang tinggal di belakang Pesantren Ar-Rifa’i, tidak jauh dari permukiman warga.
Di usianya yang senja, ia menjalani hari dengan segala keterbatasan. Bantuan zakat yang diterimanya bukan sekadar materi, tetapi juga penguat batin di tengah kondisi yang tidak mudah.
“Saya sangat bahagia dan terbantu. Semoga yang memberi zakat selalu diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah,” ucapnya pelan, menyimpan rasa syukur yang dalam.
Kisah serupa datang dari Siti Hajar, seorang janda lanjut usia yang baru tujuh bulan ditinggal wafat suaminya. Bersama cucunya, ia melanjutkan kehidupan dengan keteguhan dan harapan.
Baginya, zakat bukan hanya bantuan sesaat, melainkan tanda bahwa dirinya tidak sendiri.
“Terima kasih kepada pengurus masjid dan para pemberi zakat. Semoga menjadi berkah dan amalnya diterima,” tuturnya.
Antara Kewajiban dan Kepedulian
Dalam praktiknya, pengurus Masjid Almadaniyah menyalurkan zakat berdasarkan prinsip syariat Islam, yakni kepada delapan golongan penerima (asnaf), termasuk fakir dan miskin. Namun lebih dari itu, proses pendataan dan penyaluran menjadi tantangan tersendiri agar bantuan benar-benar tepat sasaran.
Langkah kolaborasi dengan UPZ Baznas Kota Tarakan menjadi bagian dari upaya menjaga transparansi sekaligus akuntabilitas pengelolaan zakat di tingkat lokal.
Di tengah dinamika sosial masyarakat perkotaan, inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kepedulian sosial.
Zakat dan Wajah Keadilan Sosial
Zakat fitrah dalam ajaran Islam memiliki dimensi yang melampaui kewajiban ritual. Ia hadir sebagai instrumen pemerataan, yang menghubungkan mereka yang berkecukupan dengan yang membutuhkan, sekaligus membersihkan harta dan jiwa.
Apa yang dilakukan Masjid Almadaniyah menjadi cerminan bahwa nilai-nilai tersebut masih hidup di tengah masyarakat. Bahwa di balik setiap penyaluran zakat, ada upaya menjaga martabat, menguatkan solidaritas, dan menghadirkan harapan terutama bagi mereka yang berada di lapisan paling rentan.
Di ujung Ramadhan, zakat bukan sekadar angka yang tersalurkan. Ia menjelma menjadi senyum, doa, dan harapan yang perlahan kembali tumbuh.
Penulis: a6/In
Editor: Redaksi Interkini.co






