Hj. Hasiah Latopada: Perempuan Tegar, Ibu dari Hati, Warisan Cinta yang Tak Pernah Padam
Ia tidak mewariskan harta, tidak meninggalkan gelar. Ia meninggalkan cinta, doa, dan generasi yang lahir dari pengorbanan. Namanya Hj. Hasiah Latopada, perempuan yang hidupnya adalah pengabdian.

INTERKINI.CO – Dalam perjalanan sejarah, manusia sering kali menyanjung nama-nama besar: tokoh politik, pemimpin bangsa, atau ulama yang berjasa. Namun, ada kisah lain yang sesungguhnya tak kalah agung, meski lahir dari ruang sederhana dan kesunyian. Kisah tentang seorang perempuan yang tidak berjuang dengan pedang, tidak berdiri di podium, tetapi menorehkan jejaknya lewat cinta, ketabahan, dan pengorbanan tanpa pamrih.
Dialah Hj. Hasiah Latopada seorang perempuan yang memilih untuk menjadi ibu dari hati, ibu bagi anak-anak yatim piatu, ibu bagi mereka yang ditinggalkan dunia.
Dari Kesederhanaan Tumbuh Kekuatan
Hj. Hasiah lahir di Dolo, Kabupaten Sigi, pada 1 Januari 1928. Ia adalah putri dari pasangan Abdollah Latopada nama yang dianugerahkan oleh Guru Tua Al-Habib Idrus bin Salim Aljufri kepada ayahnya yang sebelumnya bernama Lanyora Latopada dan ibunya, Fatimah.
Sebagai anak dari keluarga besar dengan sembilan saudara, hidupnya ditempa oleh nilai kesederhanaan, ketekunan, dan ketaatan. Dari lingkungan itu ia belajar arti berbagi, arti sabar, serta ketulusan dalam memberi. Semua nilai itu melekat erat dalam dirinya, menjadi bekal dalam perjalanan panjang yang kelak ia jalani.
Ujian Hidup: Tidak Dikaruniai Anak dan Kehilangan Suami
Ketika dewasa, Hj. Hasiah menikah dengan Suyudin Maradjati, seorang pejuang organisasi Alkhairaat di masa kepemimpinan Guru Tua. Bersama suami, ia menjalani kehidupan sederhana, penuh dedikasi pada perjuangan umat.
Namun, kebahagiaan mereka diuji. Pasangan ini tidak dikaruniai anak. Bagi sebagian orang, hal itu menjadi luka yang sulit diterima. Tetapi bagi Hj. Hasiah, takdir bukanlah alasan untuk meratapi hidup. Ia percaya Allah menutup satu pintu hanya untuk membuka pintu yang lain.
Lalu datang ujian yang lebih berat. Suami tercinta dipanggil Allah lebih dahulu, meninggalkannya seorang diri. Dalam kesepian yang mungkin terasa menyesakkan, Hj. Hasiah memilih berdiri tegar. Ia tidak membiarkan kesedihan menelan dirinya, tetapi menjadikannya titik awal dari misi besar: pengabdian sepenuh jiwa untuk anak-anak yatim.
Rumah yang Menjelma Panti Kasih
Kesunyian rumahnya perlahan berubah. Dari yang semula hanya dihuni seorang perempuan yang tabah, rumah itu kini dipenuhi suara tawa dan tangis anak-anak. Awalnya hanya satu-dua anak yang ia asuh. Tetapi jumlah itu terus bertambah, hingga puluhan, bahkan ratusan. Mereka datang dengan mata redup, rindu pada kasih sayang orang tua yang telah tiada. Hj. Hasiah merangkul mereka semua tanpa membeda-bedakan.
Rumah itu kemudian dikenal dengan nama Darul Aitam rumah anak-anak yatim. Di tempat itu, Hj. Hasiah bukan sekadar pengasuh. Ia adalah ibu yang sejati. Ia menyiapkan makanan sederhana dengan tangannya sendiri, memastikan anak-anak bersekolah, mengobati yang sakit, menghapus air mata mereka, dan menenangkan mereka di malam-malam panjang ketika kerinduan pada orang tua terasa menyayat.
Kini, rumah cinta itu tumbuh dan berkembang menjadi Panti Asuhan Darul Yataama. Warisan nyata dari seorang perempuan yang mengabdikan hidupnya bukan untuk dirinya, melainkan untuk anak-anak yang ditinggalkan kehidupan.
Cinta yang Melahirkan Generasi
Puluhan tahun pengabdian itu tidak sia-sia. Puluhan, bahkan ratusan anak telah tumbuh dalam pelukan Hj. Hasiah. Ada yang kini telah menikah dan memiliki anak. Ada yang sukses dalam karier. Bahkan, ada yang menjadi orang besar di masyarakat.
Inilah ironi yang penuh makna: seorang perempuan yang tidak memiliki anak kandung, justru melahirkan begitu banyak anak dari cinta dan pengorbanannya. Ia membuktikan bahwa keibuan tidak hanya lahir dari rahim, tetapi juga dari hati yang luas dan ikhlas memberi.
Kepergian yang Membekaskan Cahaya
Pada hari Jum’at yang penuh berkah, 16 April 2021, bertepatan dengan 4 Ramadhan 1442 H, Hj. Hasiah Latopada berpulang ke rahmatullah. Kepergiannya menorehkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi ratusan anak yang pernah merasakan pelukannya.
Namun cinta tidak pernah benar-benar mati. Ia tetap hidup dalam doa-doa anak yatim yang ia asuh. Ia mengalir sebagai amal jariyah yang tak pernah putus. Warisan Hj. Hasiah bukan berupa harta benda, tetapi cinta yang abadi, pengabdian yang akan selalu dikenang, dan lembaga nyata yang terus berdiri sebagai bukti cintanya.

Jejak Abadi di Desa Kotarindau
Di Desa Kotarindau, tanah yang tenang dan asri, jejak Hj. Hasiah tetap hidup. Di sanalah rumahnya menjelma menjadi asrama bagi anak-anak yatim, di sanalah ia menyalakan cahaya kasih yang tak pernah padam. Dan di tanah itu pula ia kembali ke pangkuan Ilahi, dimakamkan dengan segala cinta dan doa yang menyertai.
Bagi masyarakat Kotarindau, Hj. Hasiah adalah “Nene Cia” nama panggilan penuh sayang. Nama itu bukan sekadar sebutan, melainkan bukti betapa ia hadir begitu dekat di hati. Hingga kini, meski jasadnya telah bersemayam di pusara, panggilan itu tetap hidup, terucap dengan penuh hormat dan rindu.

Doa di Pusara Nene Cia
Di pusara sederhana itu, setiap hembusan angin seakan membawa doa. Di atas tanah peristirahatan, bunga-bunga selalu hadir, diletakkan dengan penuh cinta oleh tangan-tangan kecil anak-anak yang pernah merasakan kasih sayangnya. Ada yang datang dengan membawa air mata, ada yang datang dengan doa, ada yang hanya duduk lama seakan ingin berbincang dengan sosok ibu yang tak pernah lelah memeluk mereka dulu.
Di setiap malam, ketika bulan menggantung tenang di langit, pusara itu menjadi saksi bisu: betapa seorang perempuan sederhana bisa meninggalkan warisan cinta yang tak terhitung nilainya. Tidak ada batu nisan megah, tidak ada ukiran emas yang mewah tetapi cahaya doa yang mengalir dari hati anak-anak yatim lebih indah daripada segala permata dunia.
“Allahumma ighfir laha warhamha, wa ‘afiha wa’fu ‘anha. Ya Allah, ampunilah beliau, rahmatilah beliau, lapangkanlah kuburnya, jadikanlah setiap tetes keringat dan air mata perjuangannya sebagai cahaya yang menerangi jalannya menuju surga-Mu.”
Dari tanah peristirahatan itu, mengalir sebuah makna yang tak lekang oleh waktu:
“Di sinilah bersemayam seorang ibu dari hati. Ia tiada meninggalkan harta, tetapi meninggalkan cinta. Ia tiada melahirkan anak, tetapi melahirkan generasi. Namanya Hj. Hasiah Latopada, Nene Cia tercinta. Warisan cintanya takkan pernah padam.”
Epilog: Warisan yang Menjadi Cermin Hidup
Kisah Hj. Hasiah adalah cermin bagi kita semua. Bahwa kehilangan bukanlah akhir, melainkan awal dari pengabdian yang lebih besar. Bahwa seorang perempuan tidak hanya dimuliakan karena keturunan, tetapi juga karena keteguhan hati dan ketulusannya dalam memberi. Bahwa rumah sederhana bisa menjelma menjadi istana kasih, jika penghuninya berhati seluas samudera.
Ia mengajarkan kita bahwa hidup yang baik bukanlah tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa banyak yang kita bagi. Ia menunjukkan bahwa luka bisa menjadi sumber cahaya, dan kesepian bisa berubah menjadi rumah bagi banyak jiwa.
Kini, Hj. Hasiah mungkin telah tiada, tetapi namanya tetap hidup. Ia hidup dalam doa anak-anak yatim yang ia cintai. Ia hidup dalam setiap langkah generasi yang pernah ia asuh. Ia hidup dalam sejarah sebagai perempuan tegar, ibu dari hati, dengan warisan cinta yang tak pernah padam.
Sumber:
Ismail Yusuf Latopada (keponakan)
Ditulis oleh: Muhammad Gasalele




