INTERKINI.CO, SIGI – Belakangan, jagat media sosial ramai menuding Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, lebih sering berada di luar daerah ketimbang bersama masyarakat. Namun, di balik perjalanan itu, tersimpan sebuah tujuan: menjemput program dan anggaran pembangunan yang tak bisa hanya ditunggu dari balik meja.
“Kalau saya tidak ke Jakarta, bagaimana Sigi bisa mendapat tambahan anggaran?” Pertanyaan retoris Bupati Mohamad Rizal Intjenae itu seolah menjadi jawaban sederhana atas riuh rendah komentar di media sosial. Belakangan, publik menuding sang bupati lebih sering berada di luar daerah ketimbang bersama masyarakat.
Kritik itu sah dan wajar. Masyarakat ingin pemimpinnya hadir. Tetapi perlu diingat, kehadiran seorang kepala daerah tidak hanya bisa diukur dari berapa lama ia duduk di kantor atau berdiri di lapangan. Kehadiran itu juga dapat diwujudkan dalam bentuk perjuangan senyap: melobi kementerian, menyodorkan proposal, dan membuka pintu dana pembangunan yang tak bisa hanya ditunggu dari balik meja.
Bupati Rizal telah memberi contoh. Ia menyebut perjalanan ke Jakarta bukanlah untuk jalan-jalan, melainkan bagian dari tanggung jawab otonomi daerah. Jika daerah diam, pusat bisa mengira kebutuhan Sigi telah cukup. Tetapi dengan langkah aktif, Sigi menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah: jalan yang berlubang, inflasi yang membebani, hingga fiskal daerah yang belum kuat.
Hasilnya mulai terlihat. Pajak masyarakat diringankan, bahkan beberapa pungutan dihapus. Warga yang taat membayar PBB diberi apresiasi. Operasi pasar digelar untuk menjaga harga, inflasi terkendali, dan koordinasi dengan provinsi diperkuat demi menambah sumber pendapatan daerah. Semua itu bukan retorika, melainkan kebijakan nyata yang kini dirasakan langsung oleh rakyat.
Memang, perjalanan seorang pemimpin ke luar daerah kadang tampak menjauhkan dirinya dari masyarakat. Namun sejatinya, setiap langkah itu adalah ikhtiar untuk mendekatkan kesejahteraan kepada rakyatnya. Jalan ke Palu yang mulus, harga pangan yang stabil, hingga ruang fiskal yang lebih longgar untuk pembangunan, kelak akan menjadi bukti bahwa perjalanan itu bukan sia-sia.
Kritik tetaplah penting. Tetapi jangan sampai kritik berubah menjadi penghalang. Yang dibutuhkan Sigi hari ini adalah semangat bersama: rakyat yang mengingatkan dengan cara sehat, dan pemimpin yang membuka jalan lewat kerja nyata.
Perjalanan ke Jakarta tidak sekadar urusan dinas. Ia adalah perjalanan menjemput bola, sekaligus menjemput harapan bagi seluruh masyarakat Sigi.
Catatan Redaksi: Tulisan ini adalah editorial resmi redaksi Interkini.co. Sesuai UU Pers, hak jawab dan hak koreksi tersedia bagi pihak yang ingin menanggapi melalui redaksi Interkini.co.




