Diskusi dengan Mahasiswa STIA, Irma Haflianty Bahas Dampak Program Makan Bergizi Gratis di Sigi

INTERKINI.CO, SIGI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas nasional dinilai memberikan dampak positif terhadap pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat di Kabupaten Sigi.
Hal itu disampaikan oleh Anggota DPRD Kabupaten Sigi, Irma Haflianty Yangka, ST, saat menerima audiensi dan berdiskusi ringan bersama beberapa mahasiswa STIA Panca Marga Palu Semester I di sela kegiatan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Sigi di Kantor Bupati Sigi, Ahad (14/12/2025).
Menurut Irma, pelaksanaan MBG tidak hanya berfokus pada peningkatan gizi anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, tetapi juga berperan dalam menggerakkan ekonomi masyarakat di tingkat lokal.
“Program ini sangat positif terhadap pembangunan bangsa, terutama bagi generasi muda yang akan datang,” ujarnya di hadapan para mahasiswa.
Irma menjelaskan, pelaksanaan dapur MBG di daerah memberikan peluang kerja baru bagi ibu rumah tangga. Banyak warga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan kini dapat bekerja di dapur MBG, sehingga membantu mengurangi tingkat pengangguran.
Selain membuka lapangan kerja, program MBG juga berdampak terhadap sektor pertanian dan UMKM. Bahan pangan yang digunakan dalam penyediaan makanan bergizi sebagian besar disuplai dari petani lokal dan koperasi daerah.
“Dari sisi UMKM, MBG menguntungkan petani lokal dan koperasi. Ini sangat positif karena menambah kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Sigi,” tambahnya.
Namun demikian, Irma juga menyoroti pentingnya pengawasan dan pelatihan terhadap tenaga kerja di dapur MBG untuk memastikan keamanan pangan. Ia menilai, pemerintah daerah perlu memperkuat sistem pengawasan mutu makanan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Pemerintah daerah harus melakukan pelatihan terhadap tenaga dapur MBG agar paham standar gizi dan keamanan pangan. Jangan sampai niat baik ini justru menimbulkan masalah baru,” tegasnya.
Ia menegaskan, keberhasilan MBG tidak hanya bergantung pada ketersediaan anggaran, tetapi juga pada kualitas pelaksanaan di lapangan. Pengawasan yang kuat dan koordinasi lintas sektor, menurutnya, sangat dibutuhkan agar program ini berjalan efektif dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Irma menyoroti tantangan pelaksanaan program di wilayah Sigi yang memiliki kondisi geografis beragam, mulai dari pegunungan hingga lembah.
“Sigi memiliki banyak wilayah terpencil. Pemerataan pembangunan, termasuk gizi, harus benar-benar diperhatikan,” kata Irma.
Dalam kesempatan diskusi tersebut, mahasiswa STIA Panca Marga Palu juga menanyakan bagaimana kebijakan politik seperti MBG dapat diterapkan secara berkelanjutan di tingkat daerah. Irma menjelaskan bahwa sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, DPRD, serta masyarakat menjadi faktor kunci agar program berjalan sesuai tujuan.
“Pelibatan masyarakat, UMKM, dan petani lokal harus terus ditingkatkan supaya program ini bukan hanya proyek jangka pendek, tetapi bagian dari pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan,” ujarnya.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu kebijakan strategis nasional yang digagas oleh pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Program ini bertujuan memperkuat sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui penyediaan makanan bergizi lengkap di sekolah dan fasilitas masyarakat, dengan melibatkan UMKM, petani lokal, dan koperasi sebagai bagian dari rantai pasok pangan.
Pemerintah menargetkan program MBG dapat membantu menekan angka stunting, meningkatkan kecerdasan anak, serta memperkuat ketahanan pangan di tingkat daerah. Di Kabupaten Sigi, pelaksanaan MBG diharapkan mampu menjadi model pembangunan inklusif yang menghubungkan kebijakan nasional dengan kearifan lokal masyarakat.
Penulis: Mohamad
Editor: Tm Redaksi




