8 Km Jalan Rusak di Tompu Sigi, DEMA Desak DPRD Bertindak
SIGI — Akses jalan sepanjang sekitar 8 kilometer yang rusak berat di Dusun Tompu, Desa Ngatabaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kembali menjadi sorotan. Kondisi tersebut mendorong Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (DEMA FDKI) UIN Datokarama Palu mendesak DPRD Kabupaten Sigi segera mengambil langkah nyata.
Dusun yang berada di ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut itu masih menghadapi keterbatasan akses dasar, baik infrastruktur jalan maupun air bersih. Jalan tanah yang menghubungkan wilayah tersebut dilaporkan dalam kondisi rusak, licin, dan berlumpur, terutama saat musim hujan, hingga kerap menghambat mobilitas warga.
Temuan tersebut disampaikan DEMA FDKI UIN Datokarama Palu setelah melakukan kegiatan Kampung Karakter Nusantara pada 23–26 April 2026 di wilayah tersebut.
Ketua Umum DEMA FDKI UIN Datokarama Palu, Mohamad Rifal, mengatakan kondisi yang dialami warga Dusun Tompu menunjukkan adanya persoalan serius dalam pemerataan pembangunan.
“Kami melihat langsung bagaimana warga harus bertahan dalam kondisi yang sangat terbatas. Ini bukan hanya soal jalan atau air. Ini soal hak dasar yang belum terpenuhi,” ujarnya.
Selain akses jalan, persoalan air bersih menjadi tantangan harian warga. Masyarakat disebut harus menempuh medan terjal sekitar 100 meter turun ke sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurut DEMA FDKI, kondisi ini juga berdampak pada sektor pendidikan. Akses yang sulit membuat mobilitas tenaga pendidik tidak optimal, sehingga proses belajar mengajar turut terdampak.
“Selama ini pembangunan sering dilihat dari pusat-pusat kota. Padahal di sini, warga masih berjuang untuk hal paling dasar,” kata Mohamad Rifal.
DEMA FDKI UIN Datokarama Palu menilai situasi tersebut tidak dapat lagi dianggap sebagai keterbatasan geografis semata, melainkan menunjukkan adanya ketimpangan akses layanan dasar.
Melalui pernyataan sikapnya, DEMA FDKI mendesak DPRD Kabupaten Sigi dan pemerintah daerah segera melakukan intervensi konkret, terutama terkait perbaikan akses jalan dan penyediaan air bersih.
Mereka menegaskan, tanpa langkah nyata, warga Dusun Tompu akan terus menghadapi kondisi yang sama setiap hari: melintasi jalan rusak, mengakses air dengan medan terjal, dan menunggu kepastian pembangunan yang belum hadir secara merata.
Editor: Redaksi Interkini.co




