Objek Wisata Wayu Terkendala Air dan Fasilitas Tak Berfungsi
INTERKINI.CO, SIGI – Objek wisata paralayang Wayu di Kecamatan Marawola Barat, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, dikenal sebagai salah satu spot paralayang terbaik di Asia Tenggara. Dari ketinggian, pengunjung dapat menikmati panorama Lembah Palu yang sejuk dan asri. Namun di balik keindahan alamnya, kawasan wisata ini masih menghadapi persoalan mendasar yang belum tertangani: keterbatasan air bersih dan fasilitas penunjang yang terbengkalai.
Fasilitas menara pandang atau teropong yang diresmikan pada 2020 kini tidak lagi difungsikan. Sarana yang seharusnya menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan itu terbengkalai tanpa kejelasan pengelolaan.
Selain itu, pasokan air bersih di lokasi wisata belum stabil. Meskipun saat malam pergantian tahun kebutuhan air sempat terpenuhi, setelah perayaan usai, pasokan kembali tersendat. Kondisi ini membuat pengunjung kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, sekaligus menunjukkan belum maksimalnya pengelolaan fasilitas pendukung di kawasan wisata Wayu. Situasi tersebut dinilai berpotensi menghambat pertumbuhan sektor pariwisata di Sigi.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sigi, Jufrin, mengakui persoalan itu. Ia menyebutkan bahwa ketersediaan air bersih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah untuk menjamin keberlanjutan kawasan wisata Wayu.
“Objek wisata paralayang Wayu pasca tahun baru kemarin krisis air bersih, dan ini menjadi PR besar kami. Kami sedang mencari solusi agar penyediaan air bisa stabil dan tidak lagi menjadi kendala,” ujar Jufrin saat ditemui usai rapat di DPRD Sigi, baru-baru ini.
Selain infrastruktur, pengelolaan pendapatan daerah dari sektor wisata juga menjadi perhatian. Menurut Jufrin, pendapatan Wayu pada malam pergantian tahun 2025–2026 mencapai Rp28 juta, namun pencatatannya baru masuk dalam laporan tahun 2026 sehingga tidak berpengaruh terhadap target pendapatan tahun sebelumnya.
“Pendapatan tahun 2025 hanya sekitar Rp232 juta, naik sedikit dari tahun 2024 sebesar Rp214 juta. Kalau pendapatan malam tahun baru bisa tercatat di 2025, target pasti tercapai,” katanya.
Pemerintah daerah menargetkan pendapatan sektor pariwisata tahun 2026 mencapai Rp260 juta. Namun tanpa perbaikan fasilitas dan infrastruktur dasar, target tersebut dinilai sulit diwujudkan.
“Kami akui belum ada penganggaran untuk perbaikan fasilitas teropong tahun ini. Tapi kalau aset itu difungsikan kembali, pasti berdampak pada peningkatan pendapatan daerah,” tambah Jufrin.
Kondisi ini memperlihatkan potensi wisata paralayang Wayu yang besar, tetapi belum diimbangi dengan pengelolaan yang berkelanjutan. Daya tarik alam yang luar biasa masih berhadapan dengan realitas minimnya infrastruktur dan dukungan anggaran.
Wayu semestinya tidak hanya menjadi tempat menikmati pemandangan, tetapi juga cermin tata kelola pariwisata daerah yang seharusnya berpihak pada kenyamanan pengunjung dan kesejahteraan masyarakat sekitar.
(a6/in)




