BerandaKisah & InspirasiPerempuan

Sumi A.Md: Dari Dapur Rumah Tangga ke Kursi Parlemen

Perjalanan Perempuan Sederhana Menembus Dunia Politik

Di balik kesibukan dapur dan rutinitas rumah tangga, sering tersembunyi kekuatan besar seorang perempuan. Kekuatan itu bukan hanya untuk menjaga keluarga, tetapi juga untuk membawa perubahan di ruang publik. Kisah Sumi, seorang ibu rumah tangga yang kini duduk di kursi parlemen, menjadi bukti bahwa tekad dan keberanian bisa membuka jalan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.

Saya tidak pernah bermimpi menjadi seorang politisi. Dunia saya dulu sederhana: dapur, rumah, anak-anak, dan keluarga. Suami saya, Paniko, yang lebih dulu terjun ke dunia politik. Saya hanya mendukung dari belakang, mengurus rumah agar ia bisa fokus.

Namun, hidup sering memberi kejutan. Saat pencalonan legislatif 2014, suami saya tidak bisa maju karena masih terikat pekerjaan swasta. Saat itu partai mencari keterwakilan perempuan. “Kamu saja yang maju,” kata suami. Jujur, saya kaget sekaligus takut. Saya tidak pernah tahu soal politik. Saya hanya ibu rumah tangga. Tapi karena dorongan suami dan kebutuhan partai, akhirnya saya memberanikan diri.

Saya masuk PDI Perjuangan. Saat itu saya seperti dilempar ke dunia asing. Tetapi, dengan tekad dan keyakinan, saya jalani. Kampanye, bertemu masyarakat, menyalami orang-orang yang sebelumnya tidak saya kenal. Rasanya luar biasa melelahkan, sekaligus membuka mata.

Dan ketika hasil pemilu keluar, saya benar-benar terharu. Dari sekian banyak calon, saya berhasil mengumpulkan 2.400 suara pribadi. Suara rakyat membawa saya duduk di kursi DPRD Sigi. Sungguh, saya tidak pernah menyangka seorang ibu rumah tangga biasa bisa dipercaya rakyat.

Belajar dari Nol

Saya ini orang baru, tentu kaget saat terpilih. Tapi namanya sudah diberi amanah, saya harus belajar. Saya ikut pengkaderan, pendidikan politik, bahkan kaderisasi perempuan. Saya belajar bahwa politik bukan sekadar perebutan kursi, tapi tentang bagaimana kita melayani orang banyak.

Sebagai wakil rakyat, saya bertemu banyak orang dari latar belakang berbeda. Saya Nasrani, dan di dapil saya waktu itu kebanyakan calon lain Muslim. Saya bertemu konstituen di gereja, saat ibadah, juga di acara kedukaan. Tapi saya juga hadir di rumah duka umat Muslim, di syukuran, di kegiatan mereka. Bagi saya, pelayanan tidak boleh mengenal perbedaan.

Pokok pikiran yang saya dapat selalu saya bagi rata, baik untuk Nasrani maupun Muslim. Saya tidak pernah membedakan. Saya yakin, rakyat menitipkan harapan bukan karena agama atau golongan, tetapi karena mereka percaya kita bisa membantu.

Ambulans dari Hati

Ada satu hal yang selalu saya ingat: orang sakit tidak bisa menunggu. Karena itu, dari dana pribadi saya menyediakan sebuah ambulans yang bisa digunakan siapa saja. Tidak peduli siapa, dari mana, bahkan di luar dapil saya. Ambulans itu terbuka untuk semua. Saya ingin, setidaknya, bisa meringankan penderitaan orang lain.

Saya juga bermimpi membuat kelompok-kelompok perempuan di bidang pertanian, khususnya untuk memproduksi pupuk organik. Belum tercapai sampai sekarang, tapi saya percaya suatu hari nanti saya bisa memulainya, lalu melibatkan banyak perempuan lain.

Keluarga dan Politik

Saya bersyukur, di periode kedua ini, bukan hanya saya yang duduk di parlemen, tapi juga suami saya, Paniko. Bedanya, ia di DPRD Provinsi, saya di DPRD Kabupaten. Kami sama-sama di PDI Perjuangan.

Orang sering bertanya, “Bagaimana rumah tangganya?” Saya selalu tersenyum. Anak-anak tetap prioritas. Kami punya tiga putra, dan mereka tetap jadi pusat hidup kami. Rumah tangga harus tetap aman, meski kami sibuk dengan politik. Kuncinya, pandai membagi waktu.

Pesan untuk Perempuan

Saya ingin perempuan berani masuk ke dunia politik. Jangan takut. Kita butuh perempuan untuk mengawal kebijakan yang menyentuh langsung perempuan dan anak. Politik memang keras, tapi dengan niat baik, doa, dan ketulusan, kita bisa bertahan.

Saya belajar satu hal: kesulitan harus dihadapi, bukan dihindari. Kalau kita tidak mencoba, kita tidak pernah tahu seberapa besar kesulitan itu. Saya percaya, setiap kesulitan ada jalan keluarnya, asal kita berani melangkah.

Suami saya selalu mengingatkan filosofi sederhana: jujur, ramah kepada siapa pun, dan berbuat yang terbaik bagi sesama. Saya pegang teguh itu dalam hidup saya.

Kini, dari seorang ibu rumah tangga, saya bisa berdiri di ruang parlemen. Semua ini bukan karena saya hebat, tapi karena Tuhan memberi jalan dan rakyat memberi kepercayaan.

Bagi saya, politik bukan tentang jabatan, tapi tentang hati. Selama kita tulus membantu, Tuhan pasti membukakan jalan terbaik.

Edukasi untuk Perempuan dan SDM Daerah

Kisah Sumi menjadi inspirasi bahwa peningkatan kualitas SDM, khususnya perempuan, sangat penting. Perempuan tidak hanya berperan di ranah domestik, tetapi juga mampu memberi kontribusi nyata dalam pembangunan daerah. Pendidikan, pelatihan, dan keberanian mengambil peran harus terus ditumbuhkan agar lahir lebih banyak pemimpin perempuan dari berbagai lapisan masyarakat.

Dengan semakin banyaknya perempuan yang terlibat aktif, kebijakan publik akan lebih inklusif, memperhatikan kebutuhan perempuan, anak, dan kelompok rentan lainnya. Pada akhirnya, keberanian melangkah dan kemauan untuk terus belajar menjadi kunci dalam membangun Sigi yang lebih maju.

Penulis: Muhammad Gasalele
Editor: Tim Redaksi Interkini.co

Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.