Jejak Perempuan Pertama Pimpin PKS Sigi: Politik sebagai Kemanusiaan
Meski tak lagi duduk di DPRD, jejak kepemimpinannya tetap hidup dan menginspirasi perempuan di Sigi untuk berani melangkah.
INTERKINI.CO – Di Sigi, politik kerap digambarkan sebagai panggung yang keras dan penuh persaingan. Namun di balik riuhnya perhitungan suara dan rapat-rapat yang melelahkan, ada sosok perempuan yang menjalaninya dengan hati: Hikmah Ladjidji., S.Pi Meski kini ia tak lagi duduk di kursi DPRD ataupun menjabat sebagai ketua partai, jejak perjuangannya tetap hidup, menjadi inspirasi bagi banyak perempuan yang masih ragu melangkah ke dunia politik.
“Bagi saya politik adalah kemanusiaan,” ucapnya tenang saat berbincang lewat telepon. Kalimat sederhana, tapi mencerminkan perjalanan panjang yang telah ia jalani sejak remaja.
Dari UNHAS ke PKS: Benih Awal Perjuangan
Hikmah mengenal politik bukan dari ruang rapat resmi, melainkan dari kegiatan sosial. Saat kuliah di Universitas Hasanuddin, Makassar, pada 1999, ia berjumpa dengan Partai Keadilan—yang kini dikenal sebagai PKS. Dari sinilah ia jatuh hati.
“Awalnya kami ikut bakti sosial, mengajar adik-adik dhuafa, qurban bersama warga, sampai sahur dan buka puasa bersama. Itu bukan sekadar partai, tapi ruang pembentukan pribadi Islami,” kenangnya.
Sejak itu, PKS bukan lagi sekadar kendaraan politik, melainkan bagian dari hidupnya. Ia bahkan berseloroh, “Nikah saja saya dapat jodoh lewat PKS.”
Awal Jejak Politik
Sejak awal 2000-an, Hikmah aktif di berbagai struktur partai: mulai dari Luwu Utara sebagai Ketua Bidang Perempuan, lalu Bekasi, hingga akhirnya pindah ke Sigi pada 2015. Dari bendahara DPD, terpilih sebagai anggota DPRD pada 2019, hingga dipercaya menjadi Ketua DPD PKS Sigi periode 2020–2024.
Memimpin dengan Hati, Meski Kursi Hilang
Memimpin PKS Sigi, bagi Hikmah, bukan sekadar strategi politik. Ia belajar mendengar, menengahi perbedaan, dan melahirkan kader-kader baru.
Puncak perjuangannya terlihat saat Pilgub, ketika PKS Sigi dipercaya sebagai penanggung jawab saksi. Hasilnya, pasangan BERANI menang di Sigi. Meski pada akhirnya ia sendiri kehilangan kursi di DPRD, Hikmah tidak menyesalinya.
“Kami puas, karena semua sudah bekerja maksimal. Ini kerja kolektif, bukan sekadar saya,” ucapnya penuh syukur.
Kini, setelah masa jabatannya berakhir pada 2024, ia tidak lagi berada di struktur partai. Namun perannya tak padam. Setiap pekan, ia masih terlibat dalam pembinaan kader. Baginya, di PKS ada ruh yang membuat perjalanan panjangnya konsisten sejak 1999 hingga kini.
Politik dan Perempuan: Jangan Takut Melangkah
Bagi Hikmah, politik bukan soal laki-laki atau perempuan. Semua bisa terlibat, selama membawa manfaat. Namun ia menegaskan, perempuan tetap harus menjaga fitrah dan jati diri.
“Selagi bermanfaat, lakukan. Jangan takut terjun ke politik. Mulailah dari organisasi kecil, dari lingkungan keluarga, kampus, RT atau RW. Pelan-pelan, jalan itu akan membawa kita ke tempat di mana banyak orang membutuhkan kita,” pesannya.
Harapan untuk Sigi
Meski tak lagi berada di kursi formal, doa dan harapan Hikmah untuk Sigi tetap besar. Ia ingin masyarakat benar-benar memilih pemimpin berdasarkan rekam jejak, bukan sekadar materi.
“Cita dan doa saya, semoga masyarakat Sigi bisa hidup lebih layak, mendapatkan hak di semua sektor kehidupan. Dan semoga eksekutif dan legislatif kita diberi kekuatan serta keikhlasan dalam menjalankan amanah,” tuturnya pelan.

Epilog
Kisah Hikmah Ladjidji bukan hanya perjalanan seorang perempuan dalam politik, tetapi juga cermin keteguhan hati, iman, dan keikhlasan dalam mengabdi. Dari bangku kuliah hingga ruang sidang DPRD, dari struktur partai hingga ruang-ruang kecil pembinaan kader, jejaknya adalah bukti bahwa politik bisa dijalani dengan kesungguhan dan cinta.
Meski kini ia tak lagi menjabat sebagai ketua, cahaya yang ditinggalkan tetap menyala. Ia bukan hanya menyumbang suara, tetapi juga harapan. Ia bukan hanya menjaga kursi, tetapi menanamkan keyakinan bahwa perempuan bisa berdiri tegak di ruang yang kerap dianggap milik laki-laki.
Di tengah arus politik yang sering dipenuhi transaksi dan kepentingan sesaat, Hikmah memilih jalan yang berbeda: menjadikan politik sebagai ladang kemanusiaan, pengabdian, dan amal jariyah.
Untuk generasi muda, terutama perempuan, kisah Hikmah adalah undangan: jangan takut melangkah. Karena di balik kerikil dan tantangan, selalu ada ruang untuk berkarya, berbuat, dan memberi manfaat.
Dan pada akhirnya, seperti doa yang ia titipkan, semoga politik di Sigi dan di mana pun tak lagi sekadar tentang perebutan kuasa, melainkan tentang menghadirkan kehidupan yang lebih baik, lebih layak, dan lebih manusiawi bagi semua.
Penulis : Mohmada Gasalele
Editor : Tim Redaksi Interkini.co




