
INTERKINI.CO , BANYUWANGI— Di bawah langit cerah Banyuwangi, Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae tampak bersemangat meninjau lahan pertanian di PT Pandawa Agri Indonesia. Kunjungan itu bukan sekadar perjalanan dinas, melainkan langkah nyata Kabupaten Sigi untuk belajar dari kesuksesan Banyuwangi dalam mengembangkan pertanian, desa, dan ekowisata yang berkelanjutan.
Didampingi Ketua TP PKK Sigi Siti Halwiah, Sekretaris Daerah Nuim Hayat, serta beberapa kepala dinas, rombongan Pemkab Sigi memulai studi tiru dengan meninjau pusat inovasi pertanian Banyuwangi tersebut. PT Pandawa Agri Indonesia dikenal sebagai pelopor beras biofortifikasi dan memiliki pendekatan PPAI (Pendampingan Pandawa Agri Indonesia), yaitu sistem pendampingan pertanian ramah lingkungan yang disesuaikan dengan karakter wilayah dan komoditas lokal.
“Kami ingin melihat langsung praktik terbaik yang bisa kami terapkan di Sigi, terutama untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani,” ujar Bupati Rizal.
Program PPAI yang diterapkan di Banyuwangi mencakup sembilan intervensi, mulai dari pengelolaan lahan hingga pendampingan petani, dengan tujuan membangun ekosistem pertanian berkelanjutan yang tangguh dan produktif.
Perjalanan berlanjut ke Desa Sukojati, desa yang dikenal sebagai Desa Terbaik dalam Pengelolaan Keuangan Desa dari Kementerian Keuangan RI sekaligus Desa Anti Korupsi Nasional versi KPK RI. Di desa ini, rombongan Sigi melihat langsung penerapan konsep smart village, di mana seluruh layanan publik mulai dari data kependudukan, pelayanan digital, hingga perpustakaan online sudah terintegrasi dengan sistem pemerintah daerah dan nasional.
Tak hanya unggul dalam tata kelola pemerintahan, Desa Sukojati juga menjadi contoh sukses dalam penanganan stunting. Melalui posyandu aktif dan pendampingan keluarga yang melibatkan berbagai pihak, desa ini berhasil menekan angka stunting secara signifikan dan mendapat perhatian langsung dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI.
Kunjungan terakhir membawa rombongan Sigi ke Desa Wisata Kampung Kopi Gombengsari, rumah bagi kopi legendaris Kopi Lego. Dikelilingi perbukitan Ijen dan aroma kopi yang khas, Bupati Rizal menyaksikan bagaimana kopi bukan hanya komoditas, tetapi juga menjadi identitas dan daya tarik wisata edukatif bagi warga setempat.
Desa Gombengsari memiliki sekitar 400 hektar kebun kopi dengan produksi rata-rata 1,5 ton per hektar. Selain perkebunan, kawasan ini juga mengembangkan agrowisata kopi dan peternakan kambing, yang menggabungkan edukasi, ekonomi, dan rekreasi dalam satu paket.
“Konsep seperti ini sangat inspiratif. Sigi juga memiliki potensi kopi yang luar biasa, dan kami ingin belajar bagaimana mengolahnya agar bernilai wisata dan ekonomi,” tutur Bupati Rizal.
Melalui studi tiru ini, Pemerintah Kabupaten Sigi berharap bisa mengadaptasi berbagai praktik baik dari Banyuwangi mulai dari inovasi pertanian, tata kelola desa, hingga pengembangan ekowisata demi terwujudnya Sigi yang lebih maju, mandiri, dan berdaya saing.
(in66)




