Bonus Demografi di Persimpangan: Sulawesi Tengah Siapkan SDM Menuju 2045

INTERKINI.CO, PALU – Bonus demografi kerap disebut sebagai peluang emas bagi pembangunan bangsa. Namun, di balik istilah yang terdengar menjanjikan itu, tersimpan tantangan besar yang menuntut kesiapan sumber daya manusia. Pesan inilah yang mengemuka dalam Seminar Kependudukan Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2025 yang dibuka Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., di Ballroom Sriti Convention Hall, Jumat (19/12/2025).
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur menekankan bahwa Indonesia, termasuk Sulawesi Tengah, tengah berada pada fase krusial ketika jumlah penduduk usia produktif mendominasi struktur populasi. Kondisi ini, menurutnya, hanya terjadi sekali dalam sejarah sebuah bangsa.
“Bonus demografi adalah jendela peluang emas. Tapi peluang ini tidak otomatis menjadi berkah jika tidak dikelola dengan perencanaan dan kebijakan yang tepat,” ujar dr. Reny.
Ia mengingatkan bahwa tanpa peningkatan kualitas sumber daya manusia, bonus demografi justru berpotensi berubah menjadi beban sosial. Pengangguran terdidik, ketimpangan gender, hingga persoalan kesejahteraan lansia di masa depan menjadi tantangan yang harus diantisipasi sejak sekarang.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, kata dr. Reny, menempatkan peningkatan kualitas manusia sebagai prioritas utama melalui program Berani Cerdas. Program ini dirancang untuk memperluas akses pendidikan dan mendorong peningkatan kompetensi generasi muda.
“Bonus demografi hanya akan bermakna jika diiringi pendidikan yang relevan dan keterampilan yang mumpuni. Target kami, setiap rumah memiliki setidaknya satu sarjana,” tegasnya.
Seminar kependudukan ini dinilai strategis karena menjadi ruang refleksi dan diskusi lintas sektor. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, hingga media diharapkan dapat membangun sinergi dalam merumuskan langkah konkret menghadapi puncak bonus demografi Sulawesi Tengah pada periode 2030–2045.
Menurut dr. Reny, pendekatan pembangunan yang berorientasi pada manusia atau people-centered development menjadi kunci keberhasilan. Pembangunan tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kualitas hidup penduduknya.
“Penduduk adalah subjek sekaligus objek pembangunan. Hidup sehat dan bahagia menjadi fondasi utama kualitas kehidupan,” katanya.
Dari sisi capaian pembangunan manusia, Sulawesi Tengah menunjukkan tren positif. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) provinsi ini tercatat sebesar 72,24 dan masuk kategori tinggi, menempati peringkat ke-6 di kawasan Sulawesi–Maluku–Papua. Pemerintah daerah juga mencatat penurunan angka kemiskinan dari 11,04 persen menjadi 10,92 persen dalam 10 bulan terakhir.
Sementara itu, Kepala BKKBN Perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah, Tommy Calvenny Soriton, menegaskan bahwa bonus demografi harus dimaknai sebagai momentum percepatan pembangunan, bukan sekadar fenomena statistik.
“Bagaimana kita mengubah jumlah menjadi kualitas, itulah inti dari bonus demografi,” ujarnya.
Ia menambahkan, tema seminar “Membangun Kualitas Bonus Demografi melalui Inklusivitas dan Transformasi Digital Menuju Indonesia Emas 2045” mencerminkan kebutuhan untuk menyesuaikan pembangunan kependudukan dengan perkembangan teknologi dan prinsip inklusivitas.
Seminar yang diikuti 330 peserta secara luring dan daring ini melibatkan perwakilan OPD provinsi dan kabupaten/kota, Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), akademisi, serta organisasi kepemudaan. Selain diskusi, kegiatan juga dirangkaikan dengan penyerahan paket pangan bergizi bagi ibu menyusui dan balita sebagai upaya pencegahan stunting, serta apresiasi bagi pemenang lomba karya tulis cerita pendek bertema “Keluargaku” tingkat sekolah dasar.
Melalui forum ini, pemerintah daerah berharap bonus demografi tidak sekadar menjadi slogan, tetapi benar-benar menjadi modal strategis bagi Sulawesi Tengah dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
(aa7)




