Opini: Ketika Kekuasaan Melahirkan Oposisi dari Dalam
Oleh: Ahmad
Banyak penguasa menganggap ancaman terbesar datang dari luar: lawan politik, kritik publik, atau kelompok oposisi. Padahal, dalam banyak pengalaman politik, pelemahan kekuasaan justru bermula dari dalam, ketika kewenangan semakin terpusat dan ruang kepercayaan semakin menyempit. Pada titik itulah oposisi sering lahir bukan karena ambisi merebut kekuasaan, melainkan karena hilangnya rasa memiliki terhadapnya.
Paradoks kekuasaan terletak pada kenyataan bahwa semakin besar keinginan mengendalikan seluruh keputusan, semakin kecil kemampuan institusi bekerja secara mandiri. Yang tampak menguat hanyalah figur pemimpin, sedangkan organisasi yang menopangnya perlahan kehilangan daya hidup.
Pandangan bahwa distribusi kewenangan akan mengurangi wibawa pemimpin merupakan anggapan yang kerap muncul dalam praktik pemerintahan. Padahal, wibawa tidak dibangun melalui penumpukan keputusan pada satu meja, melainkan melalui kepercayaan yang membuat setiap jenjang organisasi mampu menjalankan fungsinya.
Ketika kepercayaan berkurang, hampir semua keputusan harus menunggu persetujuan dari satu pusat. Pejabat lebih memilih menunggu arahan daripada mengambil inisiatif. Jabatan tetap ada, tetapi kewenangannya menyempit. Struktur organisasi masih berdiri, namun kapasitasnya mengambil keputusan semakin melemah.
Dalam jangka pendek, pola seperti ini dapat menciptakan kesan kepemimpinan yang kokoh. Namun, pada saat yang sama, beban terus menumpuk pada satu orang. Organisasi kehilangan kemampuan menyelesaikan persoalan secara mandiri, sementara regenerasi kepemimpinan berjalan semakin lambat karena sedikit orang memperoleh kesempatan mengambil keputusan.
Dampaknya tidak selalu terlihat seketika. Ketika ruang kepercayaan menyempit, rasa memiliki terhadap organisasi ikut memudar. Orang tetap hadir dalam rapat dan melaksanakan tugas, tetapi partisipasi berubah menjadi formalitas. Pendapat tidak lagi disampaikan karena dianggap tidak akan memengaruhi keputusan.
Dalam situasi demikian, kritik mudah dipandang sebagai ancaman, sedangkan perbedaan pendapat sering dimaknai sebagai bentuk ketidaksetiaan. Energi organisasi kemudian lebih banyak digunakan menjaga keseragaman daripada memperkaya kualitas pengambilan keputusan. Padahal, kemampuan menerima perbedaan merupakan salah satu penanda sehatnya sebuah institusi.
Tidak sedikit pengalaman politik memperlihatkan bahwa jarak antara pemimpin dan para pendukungnya tumbuh secara perlahan. Ia berawal dari hilangnya kepercayaan, mengecilnya ruang berpartisipasi, dan semakin terbatasnya kewenangan yang melekat pada jabatan. Sebagian memilih diam, sebagian menjaga jarak, dan sebagian lain mulai menyampaikan kritik secara terbuka.
Dalam kondisi seperti itu, oposisi tidak selalu muncul sebagai kekuatan yang sejak awal berada di luar kekuasaan. Ia dapat tumbuh dari orang-orang yang sebelumnya menjadi bagian dari sistem, tetapi merasa tidak lagi dipercaya atau tidak lagi memiliki ruang untuk berkontribusi.
Sejarah politik berulang kali memperlihatkan pola serupa. Kekuasaan tidak selalu melemah karena tekanan dari luar. Ada kalanya ia terkikis dari dalam ketika institusi kehilangan kemampuan menjalankan fungsinya sendiri dan seluruh proses bergantung pada satu pusat keputusan.
Karena itu, distribusi kewenangan tidak identik dengan berkurangnya kekuasaan. Sebaliknya, ia memperkuat institusi, memperluas rasa memiliki, dan menyiapkan regenerasi kepemimpinan. Kekuasaan yang bertahan bukanlah kekuasaan yang mengendalikan segala sesuatu, melainkan yang mampu membangun sistem sehingga tetap bekerja, bahkan ketika pemimpinnya berganti.*
Tulisan ini merupakan opini penulis. Seluruh pandangan dan argumentasi menjadi tanggung jawab penulis.

